free web hosting | free hosting | Business WebSite Hosting | Free Website Submission | shopping cart | php hosting

Reparadigming  The Paradigm
( Heart Mind Management )

* Affan Mawardi

 “ if  you want one year of prosperity, grow grain. If you want ten year of prosperity, grow trees. If you want one hundred year of prosperity, grow people”.

Dari ilustrasi di atas membawa kita pada sebuah pandangan bahwa sumber daya manusialah, atau saya suka menyebutnya dengan Pekerja Intelek-tual, salah satu kunci dari segala-galanya. Mengapa saya katakan demikian, pasalnya bayangkan saja dari pandangan abstrak pekerja intelektual inilah sebuah organisasi menelurkan ide strategi perusahaan yang  brilian, dari tangan-tangan mereka pulalah strategi tersebut diimplementasikan dengan sangat profesional, dari loyalitas merekalah organisasi bukan hanya tetap eksis yang dijadikan ukuran syarat berdirinya sebuah organisasi namun pada dasarnya lebih dari itu. Sehingga umur organisasi bukan hanya ditentukan oleh betapa canggihnnya sistem manajemen yang dibuat, dan bukan pula oleh betapa hebatnya produk yang pernah dibuat, namun kesemuanya ini, kalau kita lihat dengan mata pikiran yang jernih bahwasanya, ditentukan oleh pekerja intelektual yang dimiliki oleh organisasi. Bahkan untuk hal ini, seorang pakar Marketing dari Mark Plus consulting, yang juga sebagai President of Asia Pasific Mar-keting Federation, Hermawan Kartajaya, ketika mengomentari buku” Brainware Management” karya Taufik Bahaudin, bertutur”… Marketing baru bisa dijalankan kalau kita bisa membaca apa yang ada diotak customer, people, atau stakeholder”. Sebuah argumen jernih ini semakin mengokohkan pandangan berpikir kita, bahwa pekerja intelektual inilah yang memecahkan black box what’s customer  needs.

Oleh karenanya pekerja intelektual ini   harus berada pada tempat yang istimewa, ibarat dalam kerajaan mereka (baca: Sumber Daya Manusia) ini adalah raja, yang sekaligus merangkap menjadi patih  serta prajurit. Tempat istimewa terakhir yang saya maksud  bagaimana mengembangkan manusia, sekali lagi mengembangkanmanusia, seperti filosofi di atas. Selain itu hal penting yang harus dipahami “ your organization succesf-ull is shaped in large part by what you do and give to your humand resource”. Gede Prama, yang disebut Steven Coveynya Indonesia oleh Media Indonesia, mengatakan, keberhasilan kepemim-pinan dua puluh persen ditentukan oleh strategi dan delapan puluh persen sisanya ditentukan oleh mengelola manusia, oleh karena itu kembangkan manusia. Seperti itu  kurang lebih menurut Gede Prama dalam buku” Hidup Sejahtera Selama-nya”.  Bahkan menurut Wall street Journal memperoleh laporan yang merupakan penelitian Teleometric International tentang persepsi yang dimiliki para eksekutif berprestasi tinggi dibandingkan dengan yang berprestasi rendah. Hasilnya adalah sebagai berikut, dari 16.000 eksekutif yang diteliti, 13% yang diidentifikasi seba-gai “peraih prestasi tinggi” cende-rung memperhatikan anak buahnya disamping keuntungan.

Sayangnya dalam perkara hal ini, terutama dalam dunia manajemen sumber daya manusia telah terjadi “krisis” dunia ide. “Krisis” terakhir  terlihat dari rigidnya ide-ide manaje-men sumber daya manusia,  kalau kita perhatikan secara seksama, sangat kecilnya konsep-konsep ter-baru dalam dunia manajemen SDM dalam bagaimana mengem-bangkan pekerja-pekerja intelektual, yang secara pelak telah termarginalkan secara alamiah  seiring dengan booming-nya dunia Marketing Manage-ment, yang hingga kini terus menelur-kan konsep-konsep terbaru misalnya saja, The Marketing Company.  Entah dikarenakan dunia SDM telah men-dewakan  konsep-konsep pengem-bangan SDM yang telah ada atau apa penyebab lainnya. Bila benar demiki-an penyebabnya, mengindikasikan terpenjaranya bingkai-bingkai ber-pikir inovasi ide. Selain itu pada dasarnya konsep/ide/teori yang telah ada diformulasikan pada keada-an waktu itu, sedangkan keadaan hari ini  berbeda dengan hari kemarin, dan hal ini pernah diungkapkan oleh John Naisbitt dalam bukunya yang berjudul “ Global Paradox”, bahwa kini dunia sudah tidak dapat lagi diprediksikan, keadaan hari ini sangat berbeda dengan hari kemarin dan hari ini tidak memiliki korelasi dengan hari kemarin, sehingga semuanya terlihat paradoks.  Atau  malahan disebabkan oleh manajemen itu sendiri sebagaimana yang diujar-kan Henry Mintzberg “Society has become unmanagable as a result of management “.

Kebingungan  mungkin kita alami bila menyadari hal ini, namun ada baiknya bila kita melakukan pemiki-ran Terbalik untuk menghancurkan keadaan yang demikian seperti disa-rankan secara implisit  oleh Stan Shih CEO Acer Computer dalam bukunya    “Me Too Is not My Style’”. Sehingga dari pemikiran terbalik itu memaksa kita  untuk melakukan Reparadig-ming the paradigm terhadap konsep-konsep yang telah ada sekaligus menge-nalkan sebuah konsep baru yaitu “HeartMind Management” yang tidak lain sebagai usaha repara-diming the paradigm.  Manajemen terakhir bukan bergaya Barat bukan pula bergaya Jepang, namun ia meru-pakan sebuah konsep tersendiri.

Mengapa saya katakan demi-kian,pasalnya  HeartMind Management berorientasi pada Heart dan Mind pekerja intelektual yang ada pada organisasi akan melahirkan nobility, creativity, Aspiration, Visions, dan Hope for the future.  Heart dituju-kan pada comfortness pekerja intelek-tual dalam organisasi serta Mind terfokus  pada New Ideas Intensive. Sederhana memang kelihatannya, namun manajemen ini sangat ber-tolak belakang dengan gaya manaje-men konvensional.

Bertolak belakang dengan gaya manajemen konvensional, sebab untuk terus menelurkan ide-ide baru, keharmonisan, loyalitas serta keter-aturan ditinggalkan. Terus mem-pertanyakan dan melanggar aturan, kebebasan untuk melakukan perce-patan. Kekacauan mungkin akan terjadi, tapi dari kekacauan inilah akan timbul ide-ide gila yang sangat brilian, serta pribadi-pribadi yang memiliki Personal Power. Bukankah seorang pemimpin besar yang membawa ide brilian lahir dari keadaan yang kacau. Sehingga dalam konsep manajemen ini kekacauan bukan dianggap sebagai sesuatu yang gelap dan menyeramkan, namun ia merupakan sparing partner sekaligus sebagai learning value and style yang dapat membuka mind pekerja inte-lektual. Sebagaimana ada sebuah filo-sofi “a person’s mind is like parachute, it does  not function unless it’s open”. Dikatakan  bertolak belakang, pasal-nya terfokus bagaimana membuat pekerja intelektual bila berada dalam sebuah organisasi merasakan seperti di rumah sendiri yang terasa nyaman. Sehingga bila dalam  manajemen konvensional yang menentukan gaji adalah pihak manajer, namun dalam heart manajemen pekerja intelektual dapat menentukan gajinya sendiri, yang mana pada suatu  titik mungkin mereka telah berada pada suasana yang sangat nyaman hingga-hingga tidak menginginkan   gaji lagi.

Organisasi bagi mereka layaknya home of inspiration,  mereka sangat puas walau dengan ikhlas tidak ingin digaji asalkan mereka dapat terus berinspirasi menghasilkan sesuatu yang baru.  Sehingga bukanlah gaji sebagai alat motivasi mereka namun Heart (baca: hati yang nyaman). Coba Anda bayangkan bilamana sebuah organisasi dimana pekerja intelek-tualnya memiliki Heart yang bersih dan Mind penuh dengan ide-ide yang canggih, adalah tidak lain sebuah organisasi yang sangat ideal.

            Entah ini sebuah khalayan atau bukan namun  yang pasti, perlunya kita merubah paradigma kita, sebab  world can’t be changing  before the self have changed. [#]